Kamis, 13 Desember 2018, WIB

Senin, 22 Okt 2018, 13:27:36 WIB, 41 View Administrator, Kategori : Seputar Prodi

Kondisi tanah di Desa Pucungbedug Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara tergolong tanah kering dengan sumber air hanya mengandalkan dari air hujan. Tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat di desa ini adalah singkong. Produktivitas singkong di Desa Pucungbedug cukup tinggi. Tahun 2014 produkstivitas singkong sebesar 23,86 ton/ha dan meningkat pada tahun 2015 menjadi 26,38 ton/ha (Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara, 2016). Namun, peningkatan produktivitas singkong tidak diikuti oleh peningkatan pendapatan petani. Hal tersebut disebabkan karena harga jual singkong yang terus menurun. Saat ini harga jual singkong di desa Pucungbedug Rp. 500,-/kg. Oleh karena itu perlu dicari solusi untuk mengatasi murahnya harga singkong tersebut.

Disisi lain, sebagian besar masyarakat di Desa Pucungbedug hanya mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar, sehingga daya inovasi dan kreativitasnya rendah dalam memanfaatkan sumber daya lokal yang ada. Kegiatan-kegiatan dalam wirausaha di Desa Pucungbedug sangat sedikit. Mata pencaharian utama sebagian besar penduduk adalah petani dan buruh tani sebagai kegiatan turun temurun. Pekerjaan buruh tani dipilih semata-mata karena keterbatasan modal yang dimiliki oleh penduduk setempat dan kepemilikan lahan yang terbatas. Penghasilan yang belum memadai membuat penduduk Desa Pucungbedug masih mencari pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhan. Untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga, banyak ibu rumah tangga yang bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW), sedangkan anak-anak yang sudah dewasa bekerja ke luar daerah sebagai buruh bangunan.

Tahun ini sudah terbentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) desa Pucungbedug. Dibentuknya KWT ini didasari karena adanya keinginan istri-istri petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi keluarga. Dengan adanya KWT desa Pucungbedug, para istri memiliki wadah untuk pembelajaran mengenai kegiatan wirausaha. Kelompok Wanita Tani (KWT) merupakan potensi tenaga kerja yang besar yang dapat dimanfaatkan untuk lebih kreatif memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada sehingga menjadi produktif. Salah satu potensi sumber daya lokal yang tersedia dalam jumlah besar adalah komoditas singkong. Saat ini singkong setelah panen langsung dijual, padahal harganya sangat rendah sehingga petani mengalami kerugian. Hal ini disebabkan karena mereka tidak mempunyai pengetahuan dan juga keahlian tentang pengolahan singkong menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. Jika usaha pengolahan singkong menjadi produk yang bernilai lebih tinggi bisa dikembangkan, maka nantinya akan bisa meningkatkan perekonomian petani singkong khususnya dan juga masyarakat sekitarnya, karena pembuatan produk olahan ini apabila sudah berkembang dalam skala besar akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Fahri Ali, S.P., M.P., Dosen Program Studi Agroteknologi UMNU Kebumen, bersama 2 anggota tim, yaitu Rennanti Lunnadiyah A. S.P., M.P., dan Rahmat Joko N., S.Pt., M.P., yang juga dosen dari PS yang sama, mencoba mengembangkan pengolahan singkong menjadi tepung mocaf dan keripik combro kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Nurul Hikmah dan Kelompok Tani Ngudi Rejeki Desa Pucungbedug, Banjarnegara dalam rangkaian Program Pengabdian kepada Masyarkat (PkM) Kemenristekdikti Tahun 2018. Kegiatan ini diawali dengan tahap sosialisasi pada kelompok sasaran. Kegiatan selanjutnya adalah tahap pendekatan sosial-budaya berupa penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan anggota kelompok sasaran terkait pengolahan singkong menjadi tepung mocaf dan keripik combro serta pemasarannya.

Sejak Program PkM dijalankan pada bulan Mei 2018, kegiatan penyuluhan dan pendampingan kelompok sasaran telah dilakukan beberapa kali secara bergiliran oleh anggota tim maupun mahasiswa yang terlibat melalui praktek langsung di lapangan maupun diskusi dengan anggota kelompok sasaran. Pada hari Minggu, 5 Agustus 2018, kembali dilakukan diskusi hambatan produksi dan pemasaran tepung mocaf dan keripik combro.

Anggota kelompok sasaran sangat antusias dan seksama mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut. Dialog ringan terkait materi-materi yang diberikan pun terjadi cukup hangat. Secara umum, mereka sangat tertarik dengan adanya program PkM pengolahan singkong menjadi tepung mocaf dan keripik combro. Sebagian besar dari mereka manyatakan optimis dapat memanfaatkan dan mengelola usaha pengolahan singkong tersebut secara mandiri maupun kelompok.

Dikatakan Siti Maghfiroh, bahwa sebenarnya petani Desa Pucungbedug sudah sejak lama mengharapkan adanya transfer ilmu dan teknologi tepat guna dalam rangka meningkatkan nilai tambah produk singkong yang harga jualnya terus menurun secara drastis akhir-akhir ini. “Sejak dilaksanakannya PkM pengolahan singkong di sini, banyak petani yang penasaran dan menyaksikan langsung praktek pengolahan singkong menjadi tepung mocaf dan keripik combro maupun berdiskusi dengan kami, Tim PkM, dan juga beberapa Mahasiswa UMNU Kebumen yang terlibat”, jelasnya. Lebih jauh, disampaikan Fahri bahwa hal ini merupakan respon positif sekaligus awal yang baik untuk menjaga keberlanjutan pengembangan pengolahan singkong. “Insha Alloh, kedepan kami akan terus berupaya untuk tetap fokus pada program PkM ini, serta program-program terkait lainnya”, pungkasnya.





Tuliskan Komentar